“KESUCIAN ~ bagiku pada nomor 17 dan kesekian_ Hanya Pria suci yang berhak meminta itu”
Itulah statement yang saya tulis dan mengundang beberapa komentar dari sahabat.Dari hasil cerita lepas yang tak berujung lewat tengah malam bersama beberapa temanku di Tobelo. Ada cara pandang yang berbeda, namun ada beberapa yang sama, setidaknya dari sudut pandang kami, pria.
Keperawanan, selama ini dihubungkan dengan selaput dara atau dalam bahasa medisnya disebut sebagai hymen. Selaput ini sebenarnya adalah lipatan membran yang menutup sebagian luar vagina, yang pada masa pubertas akan semakin elastis. Seorang gadis, dikatakan sudah tidak perawan lagi apabila selaput ini sobek. Well, setidaknya demikianlah anggapan masyarakat luas pada umumnya saat ini. Tetapi, medis menyatakan bahwa, sobeknya selaput dara ini tidak hanya disebabkan hubungan seksual saja. Pada beberapa kasus, selaput dara dapat robek karena aktivitas olahraga, terjatuh, atau disebabkan oleh hal lain yang tidak diduga. Nah, kalau begitu, apakah mereka yang mengalami robek selaput dara bukan karena hubungan seksual disebut sudah tidak perawan juga?Hanya 43% wanita melaporkan pendarahan ketika mereka pertama kali melakukan senggama, seperti dilaporkan oleh salah situs yang saya baca.
Namun seringkali menjadi hal yang mengusik kami para pria jika menemukan seorang wanita yang dalam keadaan tidak memiliki lagi hymen yang utuh alias tidak mengeluarkan darah sebagai penanda pertama kali, milik satu – satunya diserahkan pada seseorang pria. Karena, keperawanan ternyata masih didamba oleh peradaban manusia kekinian, baik oleh perempuan maupun laki-laki. Namun sebagian sudah tidak begitu mengapresiasinya lagi, pada segenap manusia yang lain masih menjadikannya sebagai simbol status kesucian seorang gadis, itulah mengapa secara SENGAJA saya menulis ini untuk menjadi topik jika ada yang mendiskusikan, biar masalah ini tidak memberikan efek besar dalam menjalani hubungan cinta yang suci.
Mungkin ini hanyalahpendidikan seks ringan buat kita semua.Memang “agak” penting juga buat menghindari hal – hal yang tidak diinginkan nanti, misalnya dipersoalkan oleh calon suami atau menjadi titik dimana wanita terus diintimidasi dalam rumah tangga karena hal yang satu ini. Kadang kita suka merasa tabu mendengarnya bahkan membicarakannya, sampai untuk memposting tulisan ini saja, saya jadi khawatir dinilai macam – macam. Mungkin karena takut mengotori hati sendiri, atau melukai hati wanita yang membacanya. Tapi lebih parah lagi kalo perasaan takut, maludan tabu kita bikin jadi hal biasa biar kitatidak bodoh akan hal itu atau dibodohi oleh ada tidaknya Hymen pada pasangan kita.
Betapa tidak jujurnya seorang pria jika hati kecilnya tidak terusik apabila menemukan kenyataan tersebut, namun memaksa untuk MEMAKLUMI kondisi ini adalah sebuah bentuk KEIKHLASAN pria dengan kadar rasa cukup tinggi yang seharusnya dihargai oleh wanita sepanjang hidupnya.
Dibeberapa obrolan lepas dengan teman – teman pria, kami sedikit menemukan persamaan persepsi bahwa sebenarnya ini hanyalah membutuhkan satu pengakuandari wanita, yakni KEJUJURAN. Jujur mengakui, jujur mengisahkan, dan jujur menghargai jika pria tersebut kemudian menerima dengan ikhlas. Karena tidak adanya darah pada saat berhubungan pertama kali, entah karena sengaja atau tidak sengaja sebelumnya, TETAP MENGUSIK dan MENGUNDANG TANYA SEUMUR HIDUP PRIA. Sudah JUJUR saja, kami (Pria) masih menerka – nerka, apalagi berbohong. Karena selalu saja, pria merujuk pada ada tidaknya darah yang keluar saat itu. Walau hanya sedikit pria yang seperti ini, tetapi setidaknya WANITA BERUNTUNG ini harus benar – benar sadar bahwa pria pendampingnya adalah PRIA YANG SANGAT MULIA bila menerima tanpa syarat situasi seperti ini.
Bayangin saja, tidak adanya darah membuat penghargaan pria SUDAH PASTI menurun pada wanitanya. Tidak adanya darah, mengakibat beribu tanya sampai pada pertanyaan berapa kali-kah berhubungan, dan berapakah pria yang telah menyentuh, walaupun wanita telah jujur – sejujurnya. Untuk itu sekali lagi, butuh perjuangan seorang pria untuk benar – benar ikhlas, untuk itu butuh perjuangan juga dari wanita untuk benar – benar JUJUR.
Yaa intinya perawan atau tidak perawan wanita tetap berharga, indah dan pantas dicintai sih. Tapi salah satu anugerah dan tak akan ada duanya selama hidup wanita adalah pemberian tulus pada satu – satunya pria yakni sang SUAMI, bukan CALON SUAMI yah. DARAH HYMEN masih menjadi sebuah kehormatan tertinggi yang sampai saat ini masih diagungkan, apalagi bagi orang yang hidup dibagian timur bumi ini. JAGA dan HORMATILAH, karena kado terindah pernikahan “mungkin’ salah satunya adalah hal ini.
Saya pribadi selama ini tidak pernah mempersoalkan hal ini, mungkin karena menyadari diri bahwa saya juga lebih tak suci dari wanita – wanita yang pernah dekat, juga saya selama ini tak pernah melihat bagaimana tuh darah yang keluar akibat sobeknya hymen. Hmm, bagaimana sih darah itu saya pun tak pernah berharap lagi untuk melihatnya, kalo sempat melihatnya yah itu bentuk anugerah Tuhan dizaman yang bebas gaul seperti saat ini. Cieelaa, ternyataku mengharapkan juga yah !!! hahaha.
Tobelo, 14 Januari 2012
Share this: silahkan tampilkan ke wall anda
Like this:
Be the first to like this post.